PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL

Pendahuluan
Pendidikan adalah salah satu usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) disebutkan bahwa setiap warga  negara berhak mendapatkan pendidikan, ditegaskan pula dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Pasal 5 disebutkan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat” untuk itu seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. utamanya pada bidang pendidikan yang harus segera di upayakan solusinya.

Untuk mengatasai permasalahan-permasalahan pendidikan yang kita hadapi salah satunya melalui jalur Pendidikan Luar Sekolah, upaya pemberantasan buta akasara adalah melalui program pendidikan keaksaraan fungsional. Pendidikan keaksaraan adalah satu cara untuk mengingat, mencatat, mengungkapkan kenyataan, serta berkomunikasi lintas ruang dan waktu

Buta huruf merupakan penghambat utama bagi individu penyandangnya untuk bisa mengakses informasi dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Akibatnya mereka tidak mampu beradabtasi dan berkompetisi untuk bisa bangkit dari himpitan kemiskinan, kemelaratan, dan keterpurukan dalam kehidupannya. Oleh karena itu setiap warga masyarakat perlu memiliki kemampuan keaksaraan secara fungsional untuk dapat memahami dunia dan berhasil meningkatkan derajat hidup dan kehidupannya. Kecakapan keaksaraan fungsional dikembangkan pada warga belajar merupakan sumbangan pendidikan keaksaraan ke arah pencapaian kecakapan hidup yang hendak dicapai

Kabupaten Takalar merupakan salah satu sasaran pelaksanaan penuntasan buta huruf yakni pendidikan keaksaraan fungsional yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Luar Sekolah sehingga dilibatkan berbagai unsur, baik pemerintah dan akademisi serta masyarakat. Salah satu cara untuk membebaskan warga belajar dari buta huruf adalah melalui program pendidikan keaksaraan fungsional yang mana dapat menumbuhkan kesadaran warga belajar tentang pentingnya pendidikan bagi mereka.

Program Pendidikan Keaksaraan Fungsional
Pendidikan keaksaraan adalah upaya pembelajaran untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berbahasa Indonesia dengan kandungan nilai fungsional bagi upaya peningkatan kualitas hidup dan penghidupan kaum buta huruf.

Kusnadi (2005:79) Mengemukakan bahwa Keaksaraan fungsional  adalah kemampuan untuk dapat mengatasi suatu kondisi baru yang tercipta oleh lingkungan masyarakat, agar warga belajar dapat memiliki kemampuan fungsional (berfungsi bagi diri dan masyarakatnya).

Keaksaraan fungsional adalah pengembangan dari program pemberantasan buta huruf. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan keaksaraan dasar bagi warga masyarakat buta huruf (warga belajar) sesuai dengan minat dan kebutuhan hidupnya. Pendidikan keaksaraan dapat pula berarti upaya peningkatan kualitas hidup dan pemberdayaan masyarakat. Istilah fungsional dan dalam keaksaraan berarti berkaitan dengan minat dan kebutuhan belajar warga belajar, fungsi dan tujuannya dilakukan pembelajaran keaksaraan fungsional, serta adanya jaminan bahwa hasil belajarnya benar-benar bermakna atau bermanfaat fungsional pada umumnya. Oleh karena itu, warga belajar sebagai sasaran didik program perlu mendapat kesempatan dalam kelompok belajar guna menganalisis dan memecahkan masalah yang dihadapinya, mencari informasi dan nara sumber dari lembaga pemerintah dan swasta yang ada di lingkungan sekitar warga belajar.

Tingkat keaksaraan diklasifikasikan atas tiga bagian, sebagaimana dirumuskan oleh BPLSP Regional V Makassar (2005:13) yaitu :
1. Keaksaraan Dasar
2. Keaksaraan Lanjut
3. Keaksaraan Mandiri

Tingkat keaksaraan di atas menunjukkan bahwa program keaksaraan merupakan suatu program yang dilakukan melalui tahapan tertentu yang memungkinkan kemampuan warga belajar dapat lebih meningkat dengan melalui tahapan-tahapan dalam program keaksaraan, melalui tahapan-tahapan tersebut, maka kemampuan warga belajar dalam membaca menulis dan berhitung dapat dikembangkan secara bertahap.

Tujuan dan Fungsi Keaksaraan Fungsional
BPPLSP Regional V Makassar (2005;2) yaitu : 
  1. Membelajarkan masyarakat buta huruf (peserta didik) agar mampu membaca, menulis, dan berhitung, serta berbahasa Indonesia; memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar yang benar-benar bermanfaat bagi peningkatan mutu dan taraf hidupnya
  2. Mengembangakan kemampuan warga belajar dalam memecahakan masalah sehari-hari yang dihadapi oleh mereka
  3. Melatih warga belajar untuk menggunakan keterampilan dan konpetensi keaksaraan dalam kehidupan sehari-hari
  4. Memotivasi warga belajar sehingga mampu memberdayakan dirinya sendiri dengan menggunakan komptensi keaksaraan
  5. Memotivasi warga belajar sehingga mampu memberdayakan dirinya sendiri dengan menggunakan komptensi keaksaraan
  6. Mengembangkan kemampuan berusaha dan minat baca warga belajar sehingga mampu menjadi bagian dari masyarakat gemar membaca dan masyarakat belajar
Strategi Pelaksanaan Pendidian Keaksaraan Fungsional
Penyelenggaraan pendidikan keaksaraan menekankan pada kemampuan menulis, membaca, dan berhitung aktif yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, keterlibatan warga belajar secara aktif sehingga pembelajaran menarik dan tidak membosankan, pembangunan pengetahuan, pengalaman, dengan memperhatikan tradisi lisan warga belajar (bahasa ibu) dan keaksaraan lain, pengutamaan pada bahan belajar yang digali dari lingkungan hidup warga belajar yang memiliki karakteristik beragam, dan proses belajar didesain agar responsif dan relevan dengan konteks sosio-kultural warga belajar. Pendidikan keaksaraan merupakan salah satu upaya yang sangat strategis untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.

Keempat strategi dalam pelaksanaan program keaksaraan fungsional adalah sebagai berikut :
1. Konteks Lokal
Keaksaraan fungsional harus mengacu pada konteks lokal dan kebutuhan setiap warga belajar maka bahan belajar harus digali dari konteks lokal. Bahan belajar harus bermanfaat bagi kehidupan warga belajar sehari-hari. Keaksaraan fungsional mengacu pada pemanfaatan kemampuan membaca, menulis dan berhitung setiap individu, guna memecahkan masalah serta melaksanakan tugas-tugas dan kewajibannya dalam kehidupan sehari-hari. Agar pembelajaran keaksaraan fungsional berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Mereka yang hidup di daerah perkotaan berbeda kebutuhannya dengan mereka yang hidup di daerah pertanian, nelayan atau didearah spesifik lainnya. Perlu difahami kebutuhan warga belajar untuk mengembangkan program pembelajaran keaksaraan fungsional yang benar-benar bermutu dan relevan

Masyarakat pedesaan, kegiatan pendidikan keaksaraan fungsional diawali dengan membelajarkan masyarakat dalam aspek ekonomi sehingga mereka mampu melakukan fungsi penyediaan sarana produksi, produksi barang dan pemasaran hasilnya harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

Dalam pendidikan keaksaraan fungsional harus dilakukan survey tentang kebutuhan keaksaraan setempat. Hal ini bertujuan untuk mengetahui peluang atau kesempatan dan kendala yang dihadapi warga belajar dalam kehidupan sehari-hari
 
2. Desain Lokal
Karena konteks lokal mendefenisikan adanya kebutuhan dan peluang bagi pelaksanaan program keaksaraan fungsional, pihak-pihak yang terlibat dalam program ini harus mampu membuat desain lokal keaksaraan, karena program ini dirancang berdasarkan model-model keaksaraan sebagai respon pada kebutuhan, minat, kenyataan dan sumber-sumber setempat.

3. Proses partispatif
Proses partisipatif merupakan usaha perlibatan warga belajar untuk berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan maupun penilaian kemajuan belajar. Pihak-pihak yang terlibat harus diikut sertakan sejak awal mendesain program sampai evaluasi, termasuk, warga belajar, nara sumber, dan penyelenggara serta organisasi/lembaga terkait harus ada interaksi secara aktif diantara mereka.

4. Fungsionalisasi hasil belajar
Pendidikan keaksaraan harus membarikan manfaat dan makna yang berkaitan secara langsung dengan lingkungan hidup, mata pencaharian dan situasi keluarga, sehingga hasil belajar yang dicapai warga belajar memberi manfaat bagi peningkatan mutu kehidupannya. Kriteria dalam menentukan keberhasilan program keaksaraan fungsional adalah dengan cara mengukur kemampuan dan keterampilan setiap warga belajar dalam memanfaatkan dan memfungsikan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi membaca, menulis dan berhitung guna peningkatan mutu taraf kehidupan warga belajar

5. Kesadaran
Proses pembelajaran keaksaraan hendaknya dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian warga belajar terhadap keadaan dan permasalahan lingkungan untuk melakukan aktivitas kehidupannya. Proses pembelajaran hendaknya dapat memotivasi warga belajar untuk berupaya memahami berbagai factor yang berpengaruh terhadap masalah-masalah yang dihadapinya, dan ikut memikirkan alternative cara yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.

6.   Fleksibilitas
Pendidikan keaksaraan harus fleksibel, agar memungkinkan untuk dimodifikasi sehingga responsive terhadap minat dan kebutuhan warga belajar serta kondisi lingkungan warga belajar yang berubah dari waktu ke waktu

7. Keanekaragaman
Pendidikan keaksaraan hendaknya bervariasi dilihat dari segi materi, metode, maupun strategi pembelajaraannya sehingga mampu memenuhi minat dan kebutuhan belajar di setiap daerah yang berbeda-beda

8. Kesesuian hubungan belajar
Pendidikan keaksaraan hendaknya dimulai dari hal-hal yang telah diketahui dan dapat dilakukan oleh warga belajar, sehhingga pengalaman, kemampuan, minat, dan kebutuhan belajar mereka hendaknya menjadi dasar dalam menjalin hubungan yang harmonis dan dinamis antara tutor dengan warga belajar dalam kegiatan pembelajaran

bersambung pada postingan berikutnya...

By. Hasmanto Andy Rhealisa, S.Pd.

0 komentar:

Poskan Komentar